|
Gempa Guncang Kota Padang, Ribuan Warga Lari ke Perbukitan Ribuan warga Kota Padang Minggu (10/4) petang panik luar biasa dan berlarian mengungsi ke perbukitan menyusul gempa yang mengguncang ibu Petugas Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) pada Stasiun Pencatat Gempa Lubuk Matakucing, Padangpanjang, Joharman, yang dihubungi melalui telepon semalam menyebutkan, gempa pertama yang guncangannya terasa cukup kuat di Padang itu terjadi sekitar pukul 17.18 berkekuatan 7,4 skala Richter (SR). Pusat gempa berada pada 0,8 derajat Lintang Selatan (LS) dan 98,9 derajat Bujur Timur (BT), sekitar 200 kilometer barat Kota Padangpanjang atau dekat Pulau Mentawai. Menurut Joharman, beberapa detik setelah gempa pertama, beberapa kali terjadi gempa susulan yang guncangannya lebih kecil. Salah satunya berkekuatan 6,5 SR beberapa saat setelah gempa pertama. Hingga pukul 20.30 Stasiun BMG Padangpanjang mencatat terjadi 110 kali gempa susulan, 15 kali di antaranya terasa oleh manusia yang diam di tempat. Sementara itu, Kepala Bidang Gempa Bumi BMG Suhardjono yang dihubungi di Jakarta mengemukakan, gempa yang dirasakan warga Padang dan sekitarnya berkekuatan 6,7 SR. Gempa itu berlokasi di Samudra Hindia, 105 kilometer barat daya Kota Padang, tepatnya pada 1,76 derajat LS dan 99,7 derajat BT. Gempa terjadi pukul 17.29 pada kedalaman 30 kilometer. Dampak gempa yang terasa di Kota Padang antara 4-5 MMI (Modified Mercalli Intensity). Sangat panik Wartawan Kompas di Padang dalam laporan melalui telepon Minggu malam menyebutkan, warga Kota Padang, terutama yang rumahnya berada di sekitar pantai hingga radius tiga kilometer dari pantai, betul-betul panik. Warga berlarian ke perbukitan, misalnya, ke kawasan Limau Manih, Indarung, Kuranji, Lubuk Minturun, bahkan ada yang lari ke arah Solok menuju kawasan Taman Hutan Raya Bung Hatta, sekitar 23 kilometer dari Padang. "Situasinya betul-betul panik dan tidak menentu. Apalagi, beberapa detik setelah gempa, listrik di Dilukiskan, hampir semua kawasan permukiman penduduk yang berjarak sekitar tiga kilometer dari pantai ditinggalkan penghuninya. Warga yang tak punya kendaraan berlarian atau bergelantungan di kendaraan yang mereka temui. Arus pengungsian itu memicu kemacetan luar biasa di jalan-jalan. Antrean paling parah terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum di Kota Padang karena banyak pemilik kendaraan berebutan mengisi bahan bakar. Emil Salim, seorang warga yang tinggal di kawasan Pondok, pusat Kota Padang, yang dihubungi Kompas dari Jakarta sekitar pukul 21.00 mengatakan, sejak gempa pertama guncangan seperti tidak henti-hentinya. Warga "Sekarang warga panik, takut tinggal dalam rumah. Gempa yang terasa kuat sekali," kata Meylina Delwita, yang tinggal di kawasan Rawang Barat, dekat Pelabuhan Teluk Bayur. "Kemungkinan kami akan tidur di luar rumah," kata Ita (37), warga Kompleks Universitas Andalas Padang. Dikatakan, Wali Kota Padang melalui RRI mengimbau agar warga sementara berada di luar rumah. Kepanikan juga melanda warga Kota Bukittinggi, sekitar 80 kilometer dari Sejauh yang terpantau, di Padang hingga Minggu malam belum ada laporan korban jiwa akibat gempa. Hanya saja, sejumlah bangunan dilaporkan retak-retak. Kantor Gubernur Sumatera Barat di Jalan Sudirman, misalnya, beberapa bagian dinding dan plafonnya dilaporkan rontok. Sejumlah bangunan pertokoan dan kantor di Jalan Permindo dilaporkan hampir ambruk. Tak ada tsunami Sementara itu, Kepala Subbidang Manajemen Data BMG Balai Wilayah I Medan Hendra Suwarta yang ditemui Minggu malam di Medan mengatakan, kekuatan gempa yang dirasakan di Padang hampir sama seperti yang warga Medan rasakan saat gempa Nias 28 Maret. "Dari pandangan mata petugas BMG Padang, tidak ada perubahan pada permukaan laut selama 15 menit setelah gempa. Karena itu, kami yakin tidak ada tsunami menyusul gempa itu," ujar Hendra. Kepala Bidang Gempa BMG Suhardjono mengatakan, gempa itu masih satu rangkaian dengan gempa Aceh yang terjadi 26 Desember 2004 maupun gempa Nias 28 Maret 2005. "Seperti yang sudah diukur sebelumnya, ada pengurangan kecepatan dalam pergerakan lempeng di Mentawai dan sekitarnya. Itu artinya, tegangan sudah terkumpul, dan setiap saat siap dikeluarkan menjadi gempa," ujarnya memaparkan. Guncangan gempa di Sumatera Barat itu juga dirasakan di sebagian wilayah Provinsi Bengkulu dan Provinsi Jambi. Gempa ini sempat membuat sebagian warga panik dan berhamburan keluar rumah. Kepala Bagian Gempa Bumi BMG Kepahiang, Bengkulu, Ali Muzayin yang dihubungi dari Sumber : KCM Gempa 2 hari yang lalu memang telah membuat warga di Provinsi Jambi cukup panik termasuk gua, karena gempanya kerasa banget dan lebih kerasa daripada yang sebelumnya terjadi di Nias. Sepanjang malam itu sebenernya masih terjadi gempa hanya tidak terlalu keras tapi cukup membuat lampu sedikit bergoyang dan kembali lagi terasa pada pukul 12 malam dan sekitar pukul 1 pagi tanggal |
| Leave a Comment: |